Tuesday, June 12, 2007

Wonosobo - Dieng

Lama gak posting...harapku smua baik-baik sajah denganmu .... ;-)

Liburan barusan aku main ke Wonosobo-Dieng.. ada yang udah pada pernah juga?
Ceritanya dalam rangka rindu alam *bukan rindu alam puncak heee*

Berangkatnya nge-bis Kamis malam jam 7pm (Jkt), nyampe Jumat pagi 6.30-an (Wonosobo) ...rehat bentar, mandi-nyarap dulu ... trus lanjut nge-bis lagih ke Dieng deh... sekitar 45 menitan.
Udaranya seger banget & dingin kaya Bandung jaman dulu kata temenku *thn 86-an*
...moga bisa bayangin segernya dari photo-photo ini... : )


Dua hari menikmati alam...puas-puasin hirup udaranya...rasakan keheningannya... *ceileee*
Dari satu tempat ke tempat lainnya ada yang bisa dicapai dengan jalan kaki, ngebis dan ngojeg.
Lumayan pegel jalan...5 kilo-an...mpe aku sempat kram... :"->

Yang paling berkesan, pas ojeg-ojegan di daerah pegunungan itu...wuih....dingin banget..... wajah serasa ditampar-tampar udara dingin, mana abang ojegnya pake acara kenceng-kenceng lagih....Untung udah siap dengan sweater& syal...
Seru banget....
Kiri-kanan-depan yang terlihat hanya pegunungan dan sawah...iseng aku coba liat ke belakang *masih di atas ojeg neh* untuk mastiin apakah aku benar-benar di tengah-tengah alam pegunungan..eehhh, bener di belakang juga pemandangan indah.... jadi 360 derajat itu gunung-sawah semua...keren.

Oia, ngojek ini pas lagi menuju Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka & Kawah Sileri.

Tempat-tempat lain disana itu ada Telaga Warna, di sekitarnya ada goa-goa, trus di atasnya ada theater (Dieng Plateu Theater) .... tiket masuknya cuma 3rb rupiah...pilihan film cuma 1, film dokumenter tentang terjadinya Dieng & kehidupan serta budaya disana. Durasi 23 menit....sempet ketiduran neh pas nonton...hahahaha Dari info film itu & konfirmasi lagi sama abang ojegnya aku, Juli-Agustus itu terdingin di Dieng, mpe bisa turun hujan kristal...katanya dinginnya bisa sama kaya musim dingin di Eropa (film-nya yg ngomong)..makanya, klo mo ngerasain musim dingin, Dieng bisa jadi alternatifnya : )

Trus ada Kawah Sikidang, Danau Merdada...candi-candi..... yang bagus view-nya di Candi Arjuna...

Malamnya makan mie Ongklok....terkenal di Wonosobo... makannya mestinya pake sate juga, tapi waktu itu satenya keabisan.
Mie nya disajikan pake kuah kental gitu, klo ga salah kaya dikasih tepung tapioka ....trus sambelnya itu rawit ijo..udah dimasukin langsung sama tukang mie-nya, sebelum pesan dia bakal tanya..mau pedes/sedang/ga pedes? .... aku pesennya sedeng, tapi tetep ajah huah huah...alias kepedesan :D


Senenglah pokonya..menyenangkan...

H o w G R E A T T H O U a r t .. ..

Wednesday, November 15, 2006

Di atas Langit Ketujuh


Hampir setiap hari, dapat dipastikan aku [akan] mendengar/melihat kata "bodoh", entah itu disengaja ataupun tidak disengaja, entah itu terucap dari bibirku sendiri ataupun orang lain *ini yang aku sebut dengan tak sengaja*.

entah itu ditujukan olehku kepada diriku,
entah olehku teruntuk orang lain[nya]
entah darinya teruntuk aku
ataupun darinya yang ditujukan pada entah siapa
itulah sebabnya, hampir dapat dipastikan juga, tiap orang pasti pernah menerima bingkisan kata "bodoh"... ya karna skenario entah-entah di atas.

Oya, ada yg tertinggal, kadang aku pun menggunakan skenario
entah itu olehku teruntuknya

*semoga ndak bingung* :)

Sebagai dasar dari kata "kebodohan*, kali ini aku sedang tidak bermaksud menggunakan salah satu dari skenario di atas.... tenang ajah :)

Selama hidup, baru pagi ini aku dapati gambaran makna yang sesungguhnya dari "kebodohan". Aku belum pernah mendapati gambaran sedetil dan sejelas Andrea Hirata memaparkan di Laskar Pelangi-nya. Tepatnya di di bab II, halaman 103-105 yang berjudul Langit Ketujuh.

Dengarkan, biar aku membacakannya untukmu ....
"
Kebodohan berbentuk seperti asap, uap air, kabut. Dan ia beracun. Ia berasal dari sebuah tempat yang namanya tak pernah dikenal manusia. Jika ingin menemui kebodohan maka berangkatlah dari tempat dimana saja di planet biru ini dengan menggunakan tabung roket atau semacamnya, meluncur ke atas secara vertikal, jangan pernah sekalipun berhenti.
Gapailah gumpalan awan dalam lapisan troposfer, lalu naiklah terus menuju strafosfer, menembus lapisan ozon, ionosfer, dan bulan-bulan di planet yang asing. Meluncurlah terus sampai ketinggian dimana gravitasi bumi sudah tak peduli. Arungi samudra bintang gemintang dalam suhu dingin yang mampu meledakkan benda padat. Lintasi hujan meteor sampai tiba di eksosfer --lapisan paling luar atmosfer dengan bentangan selebar 1.200 km, dan teruslah melaju menaklukkan langit ketujuh.

Kita dapat menyebutnya langit ketujuh sebagai gambaran imajiner tempat tertinggi dari yang paling tinggi. Di tempat asing itu, tempat yang tak'kan pernah memiliki nama, di atas langit ketujuh, disitulah kebodohan bersemayam. Rupanya seperti kabut tipis, seperti asap cangklong, melayang-layang pelan, memabukkan. Maka apabila kita tanyakan sesuatu kepada orang-orang bodoh, mereka akan menjawab dengan merancau, menyembunyikan ketidaktahuannya dalam omongan cepat, mencari beragam alasan, atau membelokkan pertanyaan. Sebagian yang lain diam terpaku, mulutnya ternganga, ia diselubungi kabut dengan tatapan mata yang kosong dan jauh. Kedua jenis reaksi ini adalah akibat keracunan asap tebal kebodohan yang mengepul di atas kepala mereka.

Kita tidak perlu menempuh ekspedisi gila-gilaan itu. Karena seluruh lapisan langit dan gugusan planet itu sesungguhnya terkonstelasi di dalam kepala kita sendiri. Apa yang ada pada pikiran kita, dalam gumpalan otak seukuran genggam, dapat menjangkau ruang seluas jagat raya. Para pemimpi seperti Nicolaus Copernicus, Battista Della Porta, dan Lippershey malah men-ciptakan jagat rayanya sendiri, di dalam imajinasinya, dengan sistem tata suryanya sendiri, dan Lucretius, juga seorang pemimpi, menuliskan ilmu dalam puisi-puisi.....
"


Demikianlah, maka ....
bumi hanguskanlah kebodohan, dan percayalah akan kedasyatan otak kita.

Friday, November 10, 2006

One Step Ahead



Waktu adikku ulang tahun, aku sms dia isinya:
Happy birthday yah .... Sehat selalu, makin sukses dan diberkati melimpah...

Kalau habis kebaktian di gereja, biasanya pendeta menutup dengan doa berkat...Isinya kurang lebih mengandung ini .....
bla bla bla ...
.... TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia
.... diberkatilah pekerjaanmu,
.... diberkatilah keluargamu,
.... diberkatilah kesehatanmu,
.... dst, dst
Amin

Satu contoh lagi deh :)

Kalau kita masih single, pas Ultahan, suka ada yang ucapin selamat pake ...
Enteng jodoh ya ....
atau Murah rejeki ... makin ok dalam karir dan usaha...


Dan untuk semua doa-doa di atas, biasanya kita menjawabnya dengan "AMIN"
Kadang dengan "Amin, amin, amin" untuk lebih menegaskan klo kita setuju banget & ingin doa-doa itu menjadi nyata *betul? :)*
Kita mengimani semua doa dan harapan itu akan terkabul.

Biasanya klo doa/harapan kita terjawab, kita akan mengucapkan "Thanks God".
Aku lagi belajar untuk naikin level iman aku neh ....Aku akan pilih-pilih doa-doa/harapan-harapan mana yg akan aku imani dengan "Amin" dan mana yang aku mau naikin level ke "Thanks God"

Jadi aku mo anggap itu udah aku terima, makanya aku mo imanin dengan "Thanks God"
Hehehehe

Jadi klo ntar ada yang bilang ma aku
"Enteng jodoh ya ...."
jawabku: Amin

dan untuk doa berkat ini,
.... TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia
jawabku dalam hatiku: Thanks God

.... diberkatilah pekerjaanmu,
Thanks God

.... diberkatilah keluargamu,
Thanks God

.... diberkatilah kesehatanmu,
Thanks God


Have a great journey of faith :)
God bless!